Kun faya kuun


Kun faya kuun

Baru kemarin malam, saya sempat melihat film Kun Fayakuun dalam sebuah VCD, sebuah film bertema religi Islam yang penuh sarat makna. Film yang memang saya tunggu-tunggu versi VCD-nya ini, bercerita tentang kehidupan sebuah rumah tangga yang kehidupannya sungguh sangat-sangat sederhana.

Alkisah, Ardan adalah seorang tukang kaca keliling. Hidupnya sangat sederhana, tetapi ia tetap gigih berjuang, sabar, tabah dan selalu ikhlas apa pun cobaan diberikan kepadanya. Itikadnya tetap bulat untuk mewujudkan impian untuk menjadikan keluarganya keluar dari himpitan kemiskinan.

Beruntung Ardan mempunyai istri yang saleha, setia, taat kepada suami dan Tuhannya. Dia juga tidak pernah luput mendoakan dan menanti dengan setia kedatangan Ardan sepulangnya dari berjualan kaca keliling. Tutur katanya pun sangat bijak dihadapan kedua buah hati pasangan ini. Begitu juga dengan kedua anak laki-lakinya.

Ada beberapa hikmah besar yang saya petik setelah melihat film ini:

Pertama, saya sungguh merasakan rasa syukur yang luar biasa saat ini karena telah diberikan rejeki yang cukup oleh Allah. Melihat kehidupan keluarga Ardan, sungguh sangat trenyuh. Hanya untuk membeli nasi saja, semua keluarga harus menunggu kepulangan Bapak yang berdagang kaca. Itupun hasilnya tidak tentu. Bisa laku 1 bingkai kaca saja sudah lumayan untung menurutnya, padahal harga rata-rata hanya 25-40ribu. Tentu cerita semacam ini tidak dibuat-buat dan banyak terjadi di lingkungan tempat tinggal kita. Selama ini mungkin kita tidak terlalu memperhatikan hal-hal seperti ini (termasuk saya) karena mungkin kesibukan kita sendiri.

Kedua, ada sebait kata-kata yang disampaikan Ardan kepada anak-anaknya saat sang Bapak pulang tidak membawa hasil apapun. Sang anak menyuruh Bapaknya agar berganti profesi menjadi karyawan seperti ayah temannya yang bisa memperoleh gaji besar sehingga bisa hidup berkecukupan. Apa jawab sang Bapak? "TIDAK! Bapak tidak akan berganti profesi. Bagi Bapak, Tangan Di Atas (menjadi pedagang) itu lebih mulia daripada Tangan Di Bawah, Bapak sudah menjalani profesi berjualan kaca ini selama 14 tahun! Pernahkah dalam waktu 14 tahun ini keluarga kita disengsarakan oleh Allah gara-gara Bapak berjualan kaca? hanya dalam 1 tahun terakhir ini saja keluarga kita sedikit kekurangan karena tabungan bapak habis untuk biaya sekolah kalian. Dan Bapak yakin, sebentar lagi bapak bisa jaya kembali dengan pengalaman bapak selama ini". Ini adalah sebuah harapan luar biasa seorang pengusaha sehingga masih bisa fokus di bidangnya. Dan memang benar, dengan keyakinan Ardan tersebut, akhirnya dia bisa menjadi pengusaha besar di bidangnya.

Ketiga, sedekah memang tidak akan pernah membuat seseorang akan jatuh miskin. Film yang skenarionya ditulis oleh Ust Yusuf Mansyur (yang terkenal karena ilmu sedekahnya) ini juga mengisahkan, bagaimana Ardan yang ketika itu hanya mempunyai uang 50 ribu rupiah, disedekahkan semuanya dalam amal masjid. Tak disangka, beberapa hari ada seorang investor yang mau memberikan modal 50 juta kepada Ardan untuk membuka kios toko kaca yang besar. Kun Fayakuun, dan keajaiban pun terjadi. Nasib keluarga Ardan berbalik 180 derajat, namun tetap dengan kesederhaan. Kini Keluarga Ardan bisa membuka Yayasan Yatim Piatu yang besar di kotanya (ah, mengingatkan kembali pada saya target kurang dari 4 tahun untuk membuka yayasan yatim piatu).

Cerita sedekah yang bisa mengubah nasib seseorang ini bukan hanya fiktif yang terjadi dalam film Kun Fayakuun. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengikuti taudziyah Ust Yusuf Mansyur atas undangan Bank BRI di Malang. Berkali-kali Ustad Yusuf Mansyur mengingatkan Janji Allah : barangsiapa bersedekah, pasti akan digantiNya dengan imbalan 10 kali lipatnya. Banyak cerita-cerita ajaib nyata yang disampaikan beliau. Bagaimana tukang becak yang gemar bersedekah akhirnya bisa naik haji karena dibantu oleh seorang pengusaha besar yang ingin bersedekah juga. Kemudian ada lagi cerita sopir yang mensedekahkan uang 20 ribu yang langsung diganti hari itu juga sebanyak 200 ribu! Sungguh cerita yang menginspirasi. [cite web|url=http://www.wisatahati.com]
# http://www.wisatahati.com


Wikimedia Foundation. 2010.


Share the article and excerpts

Direct link
Do a right-click on the link above
and select “Copy Link”

We are using cookies for the best presentation of our site. Continuing to use this site, you agree with this.