Eko ratrianto


Eko ratrianto

Asyik Berorganisasiby : Antarini Vellandrie, Jurnal Nasional

SIAPA yang mengira, di balik wajahnya yang kalem dan berpembawaan tenang itu dulunya ia kerap bolos ketika kuliah. Pria kelahiran Jakarta ini tertawa lebar ketika menceritakan pengalamannya di masa muda. Anak sulung dari dua bersaudara ini mengaku banyak bermain ketika kuliah. Ia lulus dengan menggondol gelar insinyur teknik setelah menempuh masa kuliah tujuh tahun. Waktu yang menurutnya cukup lama untuk bisa lulus kuliah. "Saya banyak bermain, setelah memaksakan diri untuk lulus kuliah akhirnya lulus juga," katanya tergelak.

Waktu bolos kuliah banyak dihabiskannya dengan berorganisasi. Namun ia menolak jika organisasi dijadikan hambatan ataupun alasan untuk bolos kuliah.

Ia mengaku, dikenal sebagai "tukang tidur" karena kerap tertidur ketika dosen sedang mengajar di depan kelas. "Saya kalau di kelas bawaannya mengantuk, apalagi kalau dosennya mengajarkan dengan cara yang membosankan. Kalau tidak tertidur di kelas, ya saya bolos aja atau cari-cari kegiatan di organisasi," katanya sembari tertawa.

Di kampus, Eko terkenal aktif berorganisasi, mulai dari organisasi pencinta alam hingga organisasi kemahasiswaan. Ia bahkan sempat menjadi Ketua Senat Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Indonesia. Di organisasi pencinta alam, ia sering menjadi trainer buat anggota baru ataupun diminta melatih di sekolah-sekolah umum. Melalui organisasi pencinta alam ini juga lah ia akhirnya menemukan tambatan hatinya, yakni Nurita Ichsani yang sekarang menjadi teman hidupnya (istri). Ia bertemu sang istri karena sering menjadi trainer di berbagai sekolah. "Saya kenal mantan pacar yang sekarang menjadi istri ketika saya melatih siswa SMA Tarakanita (tempat istri Eko bersekolah, Red)," katanya mengenang.

Sikap aktif berorganisasi ini sudah dimulainya sejak bangku SMU. Lelaki yang bersekolah di SMU Negeri 8 Jakarta ini juga pernah didaulat menjadi Ketua OSIS (Organisasi Intra Sekolah) tahun 1980. Manfaat berorganisasi ini dirasakannya ketika terjun ke dunia kerja.

Ia terbiasa beradaptasi dengan hal-hal baru ataupun dunia baru (ketika pindah kerja). Ia juga tak pernah merasa waswas untuk mencoba hal baru dan bertemu teman-teman baru. Selain itu, pengalaman organisasi tersebut mengajarkannya untuk lebih mudah cepat akrab dengan orang yang baru dikenal. Tak heran jika di kalangan rekan-rekan wartawan, ia dikenal sebagai sosok corporate secretary yang ramah dan tidak pelit bicara.

Selanjutnya, ayah dari Betari Safitri (putri pertama), Betari Rizqika (putri kedua), dan Betari Qalhata (putri ketiga) mempunyai hobi fotografi. Saking sukanya pada dunia fotografi, ia menyisihkan uang sakunya untuk membeli kamera. Hobi ini sudah dijalaninya sejak SMU. Setiap hari Eko tak pernah lepas dari kameranya. Ada-ada saja objek yang dipotretnya. Bahkan ia kerap usil melalui hobinya ini. Ketika itu, ia membolongi bagian depan tasnya untuk tempat lensa kamera. Melalu tas yang bolong itulah ia mencuri-curi foto objek-objek tertentu. Namun, ia enggan menceritakan objek foto apa saja yang dipotretnya. "Ada dech !" katanya dengan wajah usil sembari tersenyum.

Lelaki berdarah Jawa- ayahnya dari Pacitan, dan ibunya dari Pemalang- ini belajar memotret secara otodidak. Gurunya hanyalah buku tentang fotografi dan praktik secara langsung. Agar lebih irit di kantong, untuk membeli film Eko biasanya membeli film hitam putih yang meteran di Glodok, serta mencetaknya sendiri. Hingga kini Eko masih menekuni hobinya itu, walau sudah tak seintens dulu. () 09:25, 5 October 2008 (UTC)


Wikimedia Foundation. 2010.


Share the article and excerpts

Direct link
Do a right-click on the link above
and select “Copy Link”

We are using cookies for the best presentation of our site. Continuing to use this site, you agree with this.